Kawanan Pencuri Bacok Petugas Perhutani


bacok1.jpg

KRPH Sekaran, Totok Haryanto  bahu kirinya sobek

MAJALAH BINA – Pembalakan liar di wilayah KPH semakin meningkat dan ganas. Belum lama ini atau tepatnya pada 29 Mei 2016 pencuri kayu nekat membacok dua orang petugas Perhutani di wilayah RPH Sekaran BKPH Lodoyo Barat.

Peristiwa bermula, saat enam petugas Polisi hutan (Polhut) melakukan patroli di wilayah kawasan hutan RPH Sekaran, pukul 00.00 wib, petugas memergoki empat kawanan pencuri kayu, yang akan membawa kabur kayu jati sebanyak 2 batang dengan ukuran 8.60 meter dan 6.20 meter.

Ketika petuga mencoba melumpuhkan kawanan pencuri itu, nmun petugas mendapatkan perlawanan. Salah satu kawanan pencuri kayu menyerang balik petugas Perhutani dengan menggunakan gergaji yang telah dimodifikasi.

Akibat pergumulan itu, dua petugas Perhutani, yakni KRPH Sekaran, Totok Hariyanto mengalami luka sobek di bahu kiri. Sedangkan  Mandor Sony Triwahyu Hidayat mengalami luka di telinga sebelah kiri. Selengkapnya ….

Iklan

Pengrajin Ronggo Siap Jadi ‘Pasukannya’ Perhutani


aan

Aan Wijaya, Sekjen Gabungan Penani Nusantara (GPN

MAJALAH BINA – Pasar kayu Desa Ronggo sudah jadi meski transaksi yang terjadi berupa kayu gelap yang datang di berbagai penjuru. Demikian dikatakan Aan Wijaya, tokoh muda dan penggiat pembangunan Desa Ronggo, Jaken Kabupaten Pati ketika ditemui BINA di Omah Rembug Desa Ronggo (30/5).

Toh begitu ia tak akan turut mematahkan kegiatan pasar kayu illegal yang sudah menjadi mata pencarian masyarakat Desa Ronggo itu. Namun bagaimana ia memberi solusi bagaimana agar para pengrajin kayu tetap bisa terus bekerja dengan menggunakan kayu yang halal.  Pengrajin kayu di Desa Ronggo tercatat ada 143 orang yang banyak menggunakan kayu ilegal.

“ Potensi mereka akan tetap kita pertahankan karena akan menjadi potensi yang luar biasa ke depan,” tegasnya.

Tak dipungkiri beredarnya kayu gelap yang masuk ke Desa Ronggo setiap tahunnya merugikan negara mencapai Rp 96 miliar lebih. Sementara menyinggung pemasaran kayu di Perhutani yang mengalami kelesuan, ia menegaskan sebenarnya pasar kayu Desa Ronggo bisa menjadi peluang. Peluang untuk memasarkan/memasok kayu legal dari Perhutani.

 “ Mereka itu bisa dijadikan pasukan Perhutani yang bisa menjadi potensi luar biasa bagi Perhutani. Apalagi situasi perkayuan di Perhutani saat ini tidak menggembirakan, sampai katanya dijual dengan harga diskon 50 % tetap tidak laku. Tapi kalau di Ronggo berapa pun yang masuk pasti akan habis. Karena pasar di Ronggo sudah jadi,” ujar Aan Wijaya.

Suatu ketika Aan pernah bertemu dengan Direktur Komersial Kayu Perum Perhutani, Agus Setya Prastawa, seraya berseloroh berujar Perhutani harus riset pemasaran dari Ronggo.

Menurutnya di Ronggo sendiri pemain kayunya sudah tidak ada sekarang ini. Tapi dari pengalaman yang dulunya mereka masuk sendiri sekarang mereka cuma menerima/membeli, kayu dapat kiriman dari Jawa Timur, Jawa Barat, atau dari Blora, Cepu, Kendal dan lain-lain. Sistem sel jaringan illegal logging di Ronggo luar biasa.

“ Kalau Perhutani mau berkonsinyiasi kita tinggal tata skemanya. Atau Perhutani punya cara lain,” kata mantan tim investigasi KPK era Bambang Wijoyanto ini.

Kalau hal tersebut bisa terwujud ia yakin ‘permainan’ kayu ilegal yang masuk ke Ronggo nanti akan cair dengan sendirinya. Selengkapnya …..

Tiap tahun Rp 96 M’Raib’ Masuk Ronggo


renggoo4

Desa Ronggo, Kecamatan Jaken Kabupaten Pati

dadang

Adm/KKPH Pati, Ir RM Dadang Ishardianto

MAJALAH BINA – Ronggo, sebuah desa yang berada di wilayah kawasan hutan RPH Barisan BKPH Barisan Perum Perhutani KPH Pati. Desa Ronggo menjadi sangat dikenal bukan lantaran prestasi baik, tapi justru citra gelap dusun ini yang diketahui sebagai tempat berbagai kemaksiatan. Dari pasar kayu gelap (illegal logging) besar, curanmor, peredaran uang palsu (upal) dan lain-lain. Citra buruk Desa Ronggo yang muncuat pasca era penjarahan itu pun juga menjadi potret gelap pengelolaahan hutan di sana.

 

Desa Ronggo menjadi kawasan yang tak bisa disentuh (untouchable) dan menjadi momok bagi petugas Perhutani untuk implementasi program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di sana.

Sebagai pasar kayu gelap, potensi Dusun Ronggo luar biasa. Dari catatan konon nilai kerugian yang hilang (potential lost) kayu yang masuk ke Ronggo mencapai 12,600 M3 setiap tahunnya atau setara Rp 96 miliar lebih. Kayu-kayu gelap tersebut barasal dari berbagai tempat seperti Blora, Cepu, Kendal dan lain-lain.

“ Paling jauh, dari Purwakarta Jawa Barat dan dari Jawa Timur malah ada yang berasal dari Pulau Bawean,” ujar Adm/KKPH Pati, Ir RM Dadang Ishardianto kepada BINA belum lama ini.

Hebatnya penjualan kayu di Ronggo harganya ada yang lebih mahal dari kayu Perhutani. Pun ternyata juga laris manis dibeli orang. Berapa pun besar dan jumlahnya permintaan pembeli ‘prosedurnya’ mudah disiapkan di Ronggo.  Selengkapnya …….

Sertifikasi PHL Satndar FSC Komitmen Perhutani


Tim auditor melakukan kegiatan di lapangan.

Tim auditor melakukan kegiatan di lapangan.

MAJALAH BINA – Sebagai komitmen dalam implementasi Pengelolaan Hutan Lestari, Perum Perhutani telah menunjuk PT. SGS Indonesia untuk melakukan penilaian audit FSC Controlled Wood terhadap pengelolaan hutannya pada seluruh KPH di Perum Perhutani dalam rangka memperoleh sertifikasi ‘Kayu Terkendali’.
Salah satu misi Perum Perhutani dalam mengelola sumberdaya hutan adalah berprinsip pada Pengelolaan Hutan Lestari (PHL), yang berdasarkan karakteristik wilayah dan daya dukung daerah Aliran Sungai (DAS). Sehingga, dapat meningkatkan manfaat hasil hutan kayu dan dalam pengelolaan hutannya itu, tetap terjaga dan lestari yang berimbas dalam mendorong perekonomian dan kemakmuran rakyat di Indonesia,khususnya bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Kegiatan tersebut dilakukan Perhutani sebagai bentuk keseriusan Perum Perhutani yang secara voluntary menggunakan standar yang dikeluarkan Forest Stewardship Council (FSC) dan Programme For The Endorsement of Forest Certification (PEFC) sebagai standar sertifikasi dan implementasi pengelolaaan hutan lestari serta standart controlled wood secara corporate sebagai pengganti Police on Association (PoA) yang baru muncul 2010.
Hal tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan mengingat KPH-KPH diluar KPH sertifikasi SFM FSC, bukti pemenuhan; selain bukti pemenuhan legalitas pemanenan kayu; sangatlah terbatas, seperti : Identifikasi HCVF, penanganan tenurial, penanganan konflik penerapan komsos, tidak dilakukannya konversi hutan alam/hutan alam sekunder implementasi konvensi inti ILO (Internaltional Labour Organization) yang telah diratifikasi dan peraturan ketenagakerjaan. Selanjutnya ….>>

Semangat MOTO-GP Jadikan Sadapan Terbaik


Adm/KKPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo S Hut MM bersama jajaran pimpinan manajemen KPH Banyumas Timur.

Adm/KKPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo S Hut MM bersama jajaran pimpinan manajemen KPH Banyumas Timur.

MAJALAH BINA – Produksi sadapan getah pinus KPH Banyumas Timur tahun ini dikatakan lebih baik dibanding tahun lalu. Terjadi peningkatan yang signifikan. Sampai periode I bulan Juli realisasi produksi getah pinus sudah tercapai 2.465,73 ton atau 64,01 % dari target sebesar 3.852 ton. Pencapaian tersebut KPH Banyumas Timur saat ini tercatat sebagai yang terbaik di tingkat Divisi Regional Jawa Tengah.
“ Ini memang berkat kerja keras dan kesungguhan teman-teman di lapangan. Dan yang pasti kita selalu target oriented,” kata Adm/KKPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo S Hut MP kepada BINA belum lama ini.
Dikatakan, produksi sadapan getah pinus dihitung dari hari ke hari yang selalu dicermati kemajuan dari masing-masing RPH dengan membangun kompetitif mengelompokkan KRPH yang produkdi 200 ton sampai yang 200 ton kebawah.
“ Ini kita ranking setiap hari dan hasilnya kita umumkan di BBM (Blackberry Messanger) Group, KRPH semua bisa tahu rangking kinerjanya. Cara ini ternyata membangun kompetisi dengan KRPH yang lain,” ujar Wawan yang memacu jajarannya dengan mengobarkan semangat Moto-GP Banyumas Timur. Moto-GP atau Move On Target Operation Getah Pinus yang menjadi kebanggaan semua rimbawan KPH Banyumas Timur.
Minimal, lanjut Wawan bila ada KRPH yang menyalip rangkingnya, esoknya memacu KRPH bersangkutan untuk mendatangi penyadap guna lebih giat melakukan penyadapan.
Estimasi sampai akhir tahun produksi sadapan getah pinus KPH Banyumas Timur dipastikan Wawan dengan semangat kerja jajarannya di lapangan berkeyakinan bisa 10 % melampaui target yang ditetapkan. Apalagi didukung situasi cuaca yang sampai saat ini masih bagus, Wawan yakin target itu bisa dicapai.*

>> Resep kinerjanya sebenarnya sederhana

Resep kinerja sebenarnya sederhana


Adm/KKPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo. S Hut MP

Adm/KKPH Banyumas Timur, Wawan Triwibowo. S Hut MP

MAJALAH BINA – Resep kinerja para penyadap dikatakan Wawan sebenarnya sederhana saja. Yang dibutuhkan mereka sebenarnya hanya perhatian dari Perhutani. Seperti memberikan bingkisan menjelang lebaran dikatakan Wawan bisa membangkitkan semangat penyadap sehingga terjadi kenaikan yang cukup signifikan.
“ Walaupun mungkin tak seberapa nilainya namun perhatian semacam itu sangat berarti bagi mereka,” kata Wawan bahwasannya kalau dibanding­kan antara out put dan in put-nya akan jauh lebih besar pendapatan yang diperoleh.
Di KPH Banyumas Timur penyadap yang aktif tercatat ada 2.400 orang.
” Kurang lebih Rp 110 juta yang kita keluarkan. Tapi dengan pengeluaran sebesar itu kalau terjadi kenaikan produksi sadapan sampai 100 ton saja dengan dikalikan Rp 20 ribu pendapatan perusahaan sudah Rp 2 miliar,” ujarnya.
Kita tidak usah bicara pendapatan, lanjutnya, kita bicara laba saja, 1 kg getah memberikan laba harga penye­rahan dikurangi biaya kurang lebih Rp 4 ribu. Berarti dari Rp 4 ribu dikalikan 100 ton sama dengan Rp 400 juta. Artinya jangan sampai kita eman-eman terhadap Rp 110 juta tapi kita akan lost opportunity benefit sampai Rp 400 juta.
Lebih lanjut Wawan mencontohkan hitungan, misalnya jika 1 kg getah pinus memberikan kontribusi pendapatan sekitar Rp 20 ribu. Jika produksi getah sebanyak 500 ton saja sudah akan diperoleh pendapat sebesar Rp 10 miliar dari pendapatan perusahaan.

Pasok 85 ton getah premium
Menyinggung produksi getah premium dikatakan Wawan berdasar data Sistem Informasi Manajemen Produksi Getah Pinus (SIM-PGT) sebesar Rp 134 ton. Sebesar 85 ton produksinya berasal dari KPH Banyumas Timur atau lebih dari 60 % berasal dari KPH Banyumas Timur. Sementara laporan data lapangan produksi getah premium KPH Banyumas Timur, dikatakan Wawan juga sudah melampaui target. Dilaporkan produksi getah premium telah mencapai 94 ton lebih.
Getah memang menjadi ‘Roh’-nya Perhutani KPH Banyumas Timur. Maka ia me­ngajak semua jajarannya untuk berbuat lebih baik lagi, jangan mudah puas dengan apa yang dicapai saat ini. Tapi harus berbuat lebih banyak lagi demi kemajuan dan eksistensi perusahaan. *

Antisipasi Terjadinya Kebakaran Dengan Membuat Sekat Bakar


sekatbakar

Adm/KKPH Bojonegoro, Ir Erwin (kiri) bersama jajarannya saat meninjau pembuatan sekat bakar.

MAJALAH BINA – Dalam rangka mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan Perum Perhutani KPH Bojonegoro membuat sekat bakar (pemutus umpan api). Hal ini dilakukan serentak di beberapa titik rawan terjadinya kebakaran di wilayah KPH Bojonegoro (4/8).
Administratur/KKPH Bojonegoro, Erwin menyampaikan pembuatan sekat bakar tersebut merupakan salah satu upaya dalam mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan. Pembuatan sekat bakar di sepanjang tepian jalan raya dengan jarak 5 meter sampai dengan jarak 10 meter diharapkan dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan meluas.
Salah satu penyebab sering terjadinya kebakaran hutan mumnya diawali dari tepijalan raya. Hal ini di sebabkan karena faktor ketidaksengajaan maupun faktor kesengajaan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak menyadari dampak kerugian yang diakibatkan.
Erwin berharap dan menghimbau kepada masyarakat agar jangan membuang putung rokok sembarangan. Ia juga meinta untuk menghindari pengunaan api di kawasan hutan.
Apabila terjadi kebakaran hutan, Erwin juga meminta agar segera melapor kepada petugas kehutanan terdekat dan padamkan api dihutan sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Dijelaskan Erwin bahwa sangsi bagi orang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan secara segaja akan mendapatkan pidana penjara maksimal 15 tahun dan dendas ebesar Rp 5 Milyar, sedangkan jika tidak disengaja (kelalaian) akan dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp 1,5 Milyar, membakar hutan dengan sengaja sama dengan melanggar hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di negara kita.*